Aceh Besar – Siang itu, suasana kawasan wisata Brayeun tampak berbeda dari biasanya. Di sebuah warung sederhana milik warga, sejumlah pejabat duduk melingkar sambil berdiskusi serius. Tak ada ruang rapat mewah, tak ada meja panjang berlapis kaca. Yang terdengar hanya percakapan tentang satu kebutuhan paling mendasar masyarakat, air bersih.
Di tengah suasana sederhana itulah Anggota DPR RI Komisi V, H. Ghufran Zainal Abidin, M.A. menggelar rapat koordinasi terkait percepatan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional I Aceh Besar–Banda Aceh, Sabtu (9/5/2026).
Langkah Ghufran memilih rapat langsung di tengah masyarakat menjadi pemandangan yang menarik perhatian warga sekitar. Warung yang biasanya menjadi tempat singgah wisatawan dan masyarakat lokal mendadak berubah menjadi ruang diskusi pembangunan strategis.
Sejumlah pejabat penting turut hadir dalam pertemuan itu, mulai dari Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris, Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh Tommy Permadhi, ST., MT., perwakilan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, Sekda Kota Banda Aceh Ir. Jalaluddin, MT., hingga Asrizal, ST., M.Si dari Dinas Perkim Provinsi Aceh.
Mereka datang langsung ke kawasan sumber air baku Brayeun untuk memastikan persoalan air bersih yang selama ini menjadi keluhan masyarakat dapat segera menemukan jalan keluar.

Anggota DPR RI Komisi V H. Ghufran, MA bersama Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris, jajaran Balai Kementerian PUPR, Sekda Kota Banda Aceh Ir. Jalaluddin, MT, serta perwakilan Pemerintah Aceh menggelar rapat koordinasi lapangan di kawasan Brayeun, Aceh Besar, Sabtu (9/5/2026).
Bagi masyarakat Aceh Besar dan Banda Aceh, persoalan air bersih bukan cerita baru. Di sejumlah kawasan, warga masih menghadapi distribusi air yang belum stabil, terutama ketika musim kemarau tiba. Karena itu, proyek SPAM Regional Brayeun dipandang sebagai harapan besar untuk menjawab kebutuhan dua daerah yang terus berkembang tersebut.
Ghufran menegaskan, pembangunan SPAM Regional Brayeun tidak boleh lagi berjalan lambat akibat persoalan administratif maupun teknis.
“SPAM Regional Brayeun adalah kunci ketahanan air untuk dua wilayah. Kami hadir di sini bersama pemerintah daerah dan balai kementerian untuk memastikan sinkronisasi berjalan baik, mulai dari pembebasan lahan hingga pembangunan fisik,” ujar Ghufran di sela rapat bersama masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan tanpa jarak dengan warga. Beberapa masyarakat yang hadir tampak ikut mendengarkan jalannya pembahasan. Sebagian bahkan menyampaikan langsung harapan mereka agar proyek tersebut benar-benar terealisasi dan tidak berhenti hanya pada pembahasan di atas kertas.
Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris, juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mempercepat proses pembebasan lahan di kawasan intake air baku Brayeun.
Menurutnya, seluruh tahapan administrasi terus dipacu agar pembangunan fisik oleh pemerintah pusat dapat segera dimulai.“Kita ingin persoalan ini cepat selesai agar manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” kata Muharram Idris.
Suasana rapat yang berlangsung di warung warga justru menghadirkan komunikasi yang lebih terbuka dan membumi. Tidak ada sekat formal antara pejabat dan masyarakat. Warga dapat langsung mendengar rencana pemerintah, sekaligus menyampaikan kebutuhan yang mereka rasakan sehari-hari.
Bagi sebagian warga, langkah seperti itu memberi kesan bahwa pemerintah benar-benar turun melihat persoalan di lapangan, bukan sekadar menerima laporan dari balik meja kantor.
Di tengah obrolan yang sesekali diselingi suara kendaraan dan aliran air Brayeun, pembahasan mengenai SPAM Regional terasa lebih dekat dengan realitas masyarakat.
Air bersih bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia menyangkut kebutuhan rumah tangga, pelayanan publik, kesehatan, hingga masa depan pertumbuhan kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh.
Karena itu, rapat sederhana di warung kecil Brayeun siang itu menjadi lebih dari sekadar pertemuan koordinasi. Ia menjadi simbol bahwa solusi besar kadang lahir dari tempat-tempat sederhana, ketika pemerintah memilih duduk bersama masyarakat untuk mendengar langsung kebutuhan mereka.



















Discussion about this post